Lebih Dekat Dengan Penulis Buku Sejarah Lemah Abang (3 habis)

29 Dec

Berharap Digandakan oleh Pemda, Hanya Dapat Tanda Tangan Semata

Nampaknya menjadi penulis di Kabupaten Bekasi belum mendapatkan penghargaan yang serupa. Padahal yang ditulis merupakan sejarah suatu daerah yang ada di Kabupaten Bekasi. Maksud hati ingin mendapatkan bantuan soal penggandaan dari pemerintah. Namun yang didapatkan hanyalah bubuhan tanda tangan dari pemimpin daerah, Sa’duddin.

Ahmad Khumaidi, Cikarang Utara

Rasa tidak percaya masih membekas di wajah Ending Hasanuddin. Perjuangannya menyusun sejarah Lemah Abang dari tahun 2008 sampai bulan Oktober 2010 tidak mendapatkan apresiasi yang memuaskan dari pemerintah daerah. Padahal permintaannya tidaklah muluk-muluk. Ia hanya hendak menyumbangkan karyanya sebagai putra daerah yang peduli dengan sejarah tanah kelahirannya untuk digandakan. Namun tanggapan dari dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olah Raga (Disparbudpora) tidaklah mengenakkan baginya. “wah gimana pak Edi kayaknya ga paham. Saya datang untuk nawarin naskah saya. Masak saya ditanya balik soal donatur” jelas Ending.

Tidak adanya dukungan bukan berarti hancur harapan Ending supaya karyanya digandakan. Sebab berbagai penerbit sudah mengantri untuk mencetak naskah hasil karyanya. Namun lantaran karyanya tersebut hendak dipersembahkan untuk daerah di mana ia dilahirkan, permintaan para penerbit tersebut masih diurungkan. Ia lebih memilih supaya pemdalah yang menggandakan karyanya ini. “saya pengennya pemda yang nerbitin. Inikan buku sejarah nantinya jadi asset pemda” beber lelaki yang juga penulis scenario sinetron tersebut.

Namun harapan supaya naskah digandakan oleh pemda nampaknya hanya harapan semata. Sebab pemerintah daerah belum ada kepedulian terhadap karya walaupun berbicara soal sejarah itu sendiri. Padahal pemerintah memiliki OPD yang salah satunya membidangi masalah budaya. Namun instansi ini belum bisa menunjukkan keberpihakan pada Ending. “kayaknya ga ada harapan lagi. Sudah mentok. Sangat disayangkan sekali” jelasnya dengan nada rendah.

Bahkan orang nomor satu di Kabupaten Bekasi sendiri juga tidak mau memberikan dukungan supaya naskah sejarah yang cukup fenomenal ini digandakan oleh pemda. Sa’duddin hanya membubuhkan tanda tangan semata. Dengan maksud kalau ada tanda tangan orang nomor satu di Kabupaten Bekasi ini Ending bisa dengan mudah mendapatkan donatur untuk menggandakan karyanya. ”pak bupati hanya ngasih tanda tangan aja. Ni lihat aja,” tambahnya sambil menunjukkan tanda tangan yang dibubuhkan bupati di kertas satu lembar ukuran folio.

Ini tentunya potret yang cukup buram. Padahal visi misi Sa’duddin sendiri untuk mencerdaskan rakyat Bekasi. Di saat ada segelintir orang yang mengajukan karyanya supaya digandakan tidak mendapatkan tanggapan yang serius. Padahal naskah yang dibuat bukanlah naskah sembarangan, melainkan sejarah soal wilayah yang ada di Kabupaten Bekasi. Ini tentunya sangat ironi bagi pemerintahan Sa’duddin.(habis)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: