Warga Tambun Doyan Cerai

14 Dec

Angka perceraian di Kabupaten Bekasi cukup tinggi. dalam satu tahun perceraian yang ada mencapai 1061. daerah yang paling besar terjadi perceraian adalah Tambun Selatan yang mencapai angka 304 perceraian. Sementara untuk posisi kedua dihuni Kecamatan Cikarang Utara 111 perceraian. Sedangkan yang paling kecil adalah kecamatan Cabang Bungin hanya tiga perceraian.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh pengadilan agama Cikarang kalau kasus perceraian sebagian besar dilatar belakangi masalah kecemburuan dan ekonomi. Humas pengadilan agama Cikarang, Ansori menyatakan rata-rata yang mengajukan perceraian adalah perempuan. Sebab mereka merasa dihianati dengan ditinggal selingkuh oleh pasangannya. “cerai gugat paling banyak di sini” papar lelaki asli Bekasi tersebut.

Ansori juga menyatakan tingginya angka perceraian di Kabupaten Bekasi, khususnya di Kecamatan Tambun Selatan lantaran pertumbuhan ekonomi di wilayah ini sangat maju. Selain itu penduduknya juga multi etnik. Belum lagi pengetahuan perempuan sudah semakin meningkat. Jika perempuan mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi oleh pasangannya mereka sudah berani melaporkan ke polisi atau mengajukan gugatan cerai. “wilayah ini perempuannya sudah cukup maju, kalau mereka mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya mereka berani melawan” tambah Ansori.

Selain itu, tekanan hidup juga cukup tinggi di wilayah ini. jika sesama pasangan tidak saling memahami ada permasalahan sedikit larinya pasti ke perceraian. Untuk wilayah Tambun Selatan ini selalu menjadi langganan daerah paling subur terjadinya perceraian. Hampir bertahun-tahun daerah ini selalu menempati posisi nomor satu penduduknya paling banyak mengalami perceraian. “sudah menjadi langganan di Tambun Selatan ini” ungkap lelaki berbadan subur tersebut.

Sementara untuk wilayah pinggiran rata-rata angka perceraian relatif cukup rendah. Hal ini diprediksi menurut Ansori lantaran himpitan ekonomi atau pengetahuan perempuan tidak semaju di daerah perkotaan. Untuk tingkat perselingkuhan di wilayah pinggiran menurut Ansori juga tidak kalah besarnya dengan wilayah perkotaan. Hanya saja perempuan yang ada di wilayah ini sifatnya belum seberani perempuan yang sudah maju dan tahu hukum. “kalau di wilayah pinggiran masih cukup rendah. Bisa jadi karena perempuannya ga ngerti hukum atau ga berani mengajukan perceraian” tukasnya.(hum)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: