Surga Pengusaha Tanah Merah

15 Oct

Kecamatan Setu Kabupaten Bekasi merupakan wilayah yang cukup subur. Tanah merahnya menjadi keroyokan pemborong yang hendak menguruk lahan yang bakalan dipakai untuk mendirikan bangunan. Hampir setiap jam mobil bertonase tinggi melintas di daerah tersebut. kondisi seperti ini sudah berlangsung sejak lama. Hingga saat ini tidak ada upaya pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. Justru galian-galian terbaru bermunculan. Salah satunya di Kampung Burangkeng Desa Ciledug, Kecamatan Setu.

Di Setu sendiri sudah ada tiga galian serupa di desa yang sama. Namun lagi-lagi pemerintah daerah seolah tutup mata. Beruntung masih ada segelintir pemuda yang peduli terhadap lingkungan hidupnya. Ketua KNPI Kecamatan Setu, Wahyudi dengan gagah berani mendatangi lokasi galian C. ia bermaksud menghentikan proses penggalian. Menurutnya jika penggalian terus dilakukan akan merusak lingkungan yang ada. Selain itu kondisi jalan yang memang sudah rusak akan menjadi lebih parah lagi.

Wahyudi mengaku prihatin dengan keadaan masyarakat yang ada di wilayah Setu ini. Mereka rata-rata memanfaatkan tanah yang dimilikinya untuk menyambung hidup dengan menjualnya pada pengusaha tanah. Melihat kondisi yang cukup memprihatinkan inilah para pengusaha memanfaatkan kemiskinan warga dengan membeli tanahnya untuk digali. Warga yang membutuhkan uang pun tidak bisa berbuat banyak. Mereka merelakan tanahnya untuk digali terus menerus oleh pengusaha yang telah membelenggunya.

Wahyudi yang sedikit faham dengan aturan mengaku heran. Menurutnya penggalian seperti ini membutuhkan ijin dari pihak terkait. Karena tidak ingin wilayahnya rusak gara-gara orang yang tidak bertanggung jawab, ia pun berusaha mencari tahu perijinan galian tersebut. namun hingga ke kecamatan ia tidak mendapatkan bukti kalau galian yang ada mempunyai ijin.

Lelaki berjanggut ini pun menyesalkan sikap pemerintah daerah yang tidak tegas terhadap masalah seperti ini. Padahal kalo dilihat dampak secara langsung dapat menyebabkan tanah longsor. Selain itu jalan yang dilewati truk pengangkut tanah yang bertonese cukup besar dapat merusak jalan yang tidak sesuai dengan kualitasnya.

Dahulu pernah terdengar anggota dewan marah-marah di surat kabar lokal yang mendesak proyek seperti ini dihentikan. Namun gaungnya kini tak lagi terdengar. Entah lelah atau ada satu hal yang membuatnya berhenti. Pemerintah daerah Kabupaten Bekasi sendiri tutup mata atas permasalahan ini. Sudah dua tahun penggalian dilaksanakan didaerah tersebut dengan titik yang bebeda.

Apa jadinya bila hal tersebut dibiarkan. Kerusakan lingkungan jelas terjadi tapi memang harus dilakukan ketegasan terhadap permasalahan galian C ini. Sangat disayangkan nasib kaum miskin di kabupaten bekasi yang ingin hidup tapi di atas tanah yang mereka tempati. Semoga pejabat di kabupaten Bekasi tidak hanya memikirkan apa yang mereka terima tapi memikirkan apa yang mereka berikan untuk rakyat tentunya.(ard)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: