Nasib Wahono: Ditangkap Densus 88 gagal menikah

8 Oct

JPNN.com-Yang dialami Wahono alias Bawor sungguh ironi. Dia batal menikah setelah ditangkap Densus 88 karena diduga terlibat jaringan teroris. Setelah diinterogasi, ternyata dia dipastikan tidak terlibat. Wahono lantas dilepas. Tapi, perempuan yang seharusnya menjadi istrinya telanjur dinikahi adiknya.
————————– ——————
HANDY SETYO B., Bandar Lampung
——————— ———————–
Kemarin siang (7/10) Wahono memperbaiki televisi di rumahnya, di Jl Imam Bonjol Gang Durian, Gedongair, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Pria 31 tahun itu menyambut ramah Radar Lampung (Jawa Pos Group). Setelah menjawab salam, dia mempersilakan wartawan Radar Lampung masuk ke rumahnya yang sangat sederhana. “Sudah lama televisi itu rusak. Saya mencoba memperbaikinya,” kata Wahono. Dia menyatakan mendapatkan ilmu seputar elektronik ketika bersekolah di SMA. “Kalau nggak bisa memperbaiki, ya saya kembalikan kepada yang punya,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia kini kembali menjalani kehidupan setelah dibebaskan oleh Densus 88. Seperti diberitakan, Wahono ditangkap tim Densus 88 di Bandar Lampung pada 20 September lalu. Tuduhan yang diarahkan kepada dia cukup serius. Yakni, dia diduga terlibat dalam perampokan CIMB Niaga Medan pada 18 Agustus lalu. Wahono diduga berperan sebagai pemasok senjata api yang digunakan dalam perampokan tersebut.

“Saya ditangkap sekitar pukul delapan malam. Waktu itu saya berada di rumah Iwan untuk mengantar undangan pernikahan saya,” tutur dia. “Tiba-tiba petugas bersenjata lengkap masuk dan langsung menangkap saya. Iwan ikut diamankan,” lanjut dia.

Akad nikah Wahono dengan Siti Alianti, calon istrinya, seharusnya dilangsungkan pada 22 September lalu dan resepsinya dihelat pada 26 September. Tapi, karena Wahono ditangkap, pernikahan dengan Siti, 31, akhirnya batal. Berdasar hasil musyawarah kedua keluarga, diputuskan akad nikah tetap dilangsungkan. Salah satu pertimbangannya, undangan telanjur disebar. Namun, pengantin pria bukanlah Wahono, melainkan adik tirinya, Teguh Subagio, 25.

Wahono merasa sedih dan terpukul gara-gara insiden itu. Sudah disiapkan secara matang, tapi pernikahan tersebut gagal total karena dia ditangkap Densus 88. “Namun, semua saya serahkan kepada Allah. Mungkin dia (Siti, Red) bukan jodoh saya,” ujar dia.

Wahono mengakui, sulit melupakan kejadian yang tak mengenakkan itu. Tapi, dia berusaha keras melupakannya. “Mungkin sekarang tinggal 10 persen. Semoga nanti bisa lupa 100 persen kalau sudah kembali ke bengkel,” ungkap pria yang sehari-hari bekerja di bengkel tersebut sambil mengisap rokok dalam-dalam.

Ditangkap Densus 88 bagi Wahono bak mimpi buruk dan mengerikan. Dia menceritakan, sesaat setelah ditangkap, mata Wahono dan Iwan ditutup lakban. Kepala mereka juga ditutupi. “Tangan saya diikat dengan tali plastik,” imbuh Wahono. Petugas lantas meminta dia menunjukkan kediaman Heri Kuswanto, 25, dan Hendri Susanto, 29. “Heri dan Hendri akhirnya ikut bersama saya dengan mata ditutup dan tangan diikat,” papar dia.

Dia menuturkan, setelah itu dirinya tidak mengetahui dibawa ke mana. “Yang jelas, saya naik tangga dan nginap di tempat tersebut tiga sampai empat hari. Sedangkan Iwan dilepaskan,” terang dia.

Saat diperiksa, Wahono menerima perlakuan tidak manusiawi. “Saya dipukul dan ditendang. Tetapi anehnya, sekarang tak ada bekas pukulan dan tendangan. Saya bingung. Biasanya, kalau dipukul, ada bekasnya,” sambung dia.

Dari Lampung, dia, Heri, dan Hendri dibawa ke sebuah tempat. “Saya nggak tahu nama tempatnya. Yang jelas, berada di Jawa. Saat saya keluar, ada tulisan “Satria Brimob,” papar dia. Di sana mata Wahono tidak ditutup lagi. Dia berada satu ruang dengan Heri serta dua pria dari Medan, yakni Bagus dan Kasman. “Di tempat itu kami salat berjamaah, membaca Alquran, dan bercanda,” beber dia.

Wahono juga bertemu dengan Anton Sujarwo, 30, yang tak lain adalah adiknya. “Adik saya menitipkan pesan kepada keluarga bahwa dirinya baik-baik saja,” imbuh dia. Setelah dinyatakan tidak terlibat dalam perampokan, Wahono tak langsung dipulangkan ke Lampung. “Oleh polisi, saya disuruh tinggal di kediaman Joko,” ujar dia. Setelah beberapa hari tinggal di rumah Joko, dia pulang sendiri ke Lampung. Dia mendapatkan uang saku Rp 500 ribu dari polisi. “Saya pulang sendiri,” katanya. Wahono baru tiba di rumahnya Jumat pekan lalu (1/10), sekitar pukul 02.30 WIB.

Meski urung menikah, dia berusaha berlapang dada. “Itu adalah konsekuensi yang harus saya terima,” lanjut dia. “Saya rasa, Siti telah mendapatkan jodoh yang lebih baik daripada saya,” ucap dia. Wahono menyatakan mendapatkan informasi bahwa yang menggantikan dirinya menikahi Siti adalah adik tirinya. Saat itu sebenarnya dia telah dibebaskan oleh Densus 88, tapi masih berada di Jawa. “Saya tahu dari salah seorang kerabat yang menghubungi saya lewat telepon setelah saya dibebaskan oleh polisi,” terang dia.

Apakah sudah bertemu dengan Teguh? Wahono menganggukkan kepala. Dia mengatakan bertemu dengan adik tirinya tersebut Sabtu lalu (2/10). Waktu itu dia langsung memeluk dan mencium Teguh serta mengucapkan selamat atas pernikahan tersebut. “Saya sudah bertemu dengan Teguh. Ketika itu saya langsung memeluknya dan mengucapkan selamat. Itu memang jodoh dia (Teguh, Red) walaupun yang mempersiapkan saya. Saya sudah ikhlas” papar dia. Wahono hanya bertemu dengan Teguh setelah pembebasan itu. Dengan Siti, dia mengatakan belum bertemu. (jpnn/c11/kum)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: