Mudik ke Allah

17 Sep

Idul fitri di negara kita menjadi satu kesempatan untuk bertemu kembali dengan keluarga. Atau istilah kerennya mudik. Mengutip Yahoo.com, pada libur Idul Fitri 1431 Hijriah ini, warga Jakarta yang mudik ke kampung halamannya di berbagai kota dan desa di Pulau Jawa dan Sumatera diperkirakan mencapai 15 juta orang. Polda Metro Jaya memperkirakan 3,6 juta orang di antaranya mudik dengan sepeda motor (yahoo.com).

Jumlah ini tentu saja mencengangkan. Bayangkan ada manusia yang hilir mudik di jalanan pada waktu itu di waktu yang hampir bersamaan. Macet yang biasanya mencekam Jakarta tak kelihatan. Pindah ke jalanan menuju asal masing-masing para pemudik. Kecelakaan tak terhindarkan. Menurut catatan Tempo Interaktif,  jumlah kecelakaan mencapai 1.819 kasus, yang berkembang terus hingga hari ini. Dari kecelakaan itu 436 orang meninggal dunia, 567 orang luka berat, dan sebanyak 1.132 orang luka ringan. Kerugian ditaksir mencapai Rp 6,18 miliar. Jumlah ini sangat meningkat dibanding tahun 2009 (274 kasus) dan tahun 2010 (386 kasus).

Hal ini tentu saja sangat menarik. Menurut saya, kita yang akan mudik tentu saja sudah mengkalkulasikan segala akibat dan resiko yang akan dihadapi. Macet (tentu yang pertama), biaya, capek, lelah dan kecelakaan (mudah-mudahan enggak ya). Pertanyaannya Kenapa dengan resiko yang begitu besar masih ada begitu banyak kita yang harus mudik. Apalagi kita juga tau, fasilitas dan infrastruktur yang ada tak sebanding dengan perkembangan pemudik dan alat mudiknya. La wong gak musim mudik aja kereta, pesawat, jalanan berlubang, banyak mencelakaan orang. Apalagi mudik?

Tapi rupanya kesulitan itu memang kecil dan tak berarti dibandingkan dengan kesenangan dan kebahagiaan kita bertemu ayah dan ibu kita. Menatap wajah mereka  yang tak lagi muda. Kemudian memeluk, memegang  tangannya, sambil berbisik, “Ayah maafkan dosa dan kesalahanku”. “Ibu doakan aku selalu”. kalau dah kayak gitu, Macet? Bah (logat batak mode on) itu mah urusan kecil.

Resiko kecelakaan tak lagi kelihatan besar dibanding dengan senyuman kita ketika bertemu dengan saudara dan temen-teman masa kecil kita. Ada si Robby teman nangkep ikan. Erwin temen ngincer cewek anak tetangga. Ada Galang, musuh bebuyutan yang sering berantem. Ada lagi Ida mantan pacar. Ada Fendi Rizal, Zulham, Rismi, Rani, Zaman, Kak Johan dan lain banyak lagi.

Jalan berlubang tak lagi jadi masalah ketika melihat kota kelahiran kita yang tak lagi sama waktu kita meninggalkannya. Walaupun cuma yang nambah ruko satu dua (Bandingin ma Jakarta yang tiap hari ada nambah Gedung tinggi Baru), yang penting kerinduan kita terobati.

Tapi ada yang harus kita ingat. Kebahagiaan, keharuan, kerinduan yang kita, orang tua, dan teman-teman kita rasakan itu tak berarti dibanding dengan besarnya ampunan Allah bagi kita yang ingin kembali pada-Nya. Kalau kita mudik kepada Allah dengan berjalan, Allah akan songsong kita dengan berlari. Allah mengatakan: “Dan bersegeralah kepada Ampunan Allah yang luasnya seluas langit dan bumi”. Pertanyaaannya, Kalau kita mempertaruhkan nyawa dan mengenyampingkan seluruh resiko untuk kembali ke kampung halaman kita, bagaimana persiapan kita untuk mudik kepada Allah. Yang itu sudah pasti akan menghampiri kita. [ Yang pengen mudik tapi belom kesampaiaan, Miss u mom]. By. Roni Pradana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: