Belajar dari HKBP Ciketing

16 Sep

Tidak mau kecolongan seperti kejadian di Ciketing Kota Bekasi, Kapolresta Bekasi Kombes Setija Juanta mengumpulkan tokoh lintas agama Kabupaten Bekasi di ruang rapat lantai dua Mapolresta Bekasi. Setija meminta kepada seluruh tokoh agama supaya duduk bersama dan saling berkomunikasi dengan tokoh agama lainnya. Hal ini semata-mata untuk menghindari konflik yang tidak diinginkan seperti di Kota Bekasi. Dalam pertemuan tersebut dihadiri setidaknya puluhan tokoh lintas agama seperti: Islam, Kristen, Kristen Katolik, Hindu, Buda, Khonghucu. Selain itu juga dihadiri oleh ormas Islam dan ormas yang ada di Kabupaten Bekasi.

Setija menyatakan langkah ini hanya inisiatif melihat perkembangan suasana yang ada di Kota Bekasi yang diakibatkan oleh kasus Ciketing. Menurutnya dengan mendatangkan tokoh lintas agama dinilai mampu untuk menghindari atau meredam terjadinya konflik di Kabupaten Bekasi. Menurutnya kondisi Kota Bekasi tidak jauh berbeda dengan Kabupaten Bekasi. Tidak mau terjadi kekacauan, ia pun berinisiatif untuk mendatangkan seluruh tokoh agama yang ada di Kabupaten Bekasi. “Ini inisiatif dari pidato pa SBY di TV. Lebih baik mencegah dari pada mengatasi kerusuhan”, tuturnya usai mengadakan pertemuan.

Dipertemuan tersebut terdapat kesepakatan antar tokoh lintas agama. Mereka setuju untuk tidak saling memaksakan kehendak. Hal ini semata-mata untuk membuat Bekasi lebih kondusif. Hal inilah yang menurut Setija perlu dikedepankan. Menurut Setija jika memang terjadi pemaksaan kehendak tidak sesuai dengan konstitusi. Ia pun meminta kepada seluruh tokoh lintas agama untuk terus menerus mengefektifkan komunikasi. “Semuanyakan kalau ada komunikasi segalanya bisa diatasi” tambah perwira berpangkat melati tiga tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi, Sulaiman Zhakawerus. Menurutnya sesama agama harus saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak terhadap orang lain. Menurutnya jika salah satu agama memaksakan kehendaknya untuk mendirikan rumah ibadah yang terjadi adalah seperti kasus Ciketing tersebut. namun menurut Ustad berbadan tegap tersebut jika saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak ia menyatakan tidak akan ada insiden seperti yang sudah ada. “Kalau orang itu bisa membawa diri dan tahu diri pasti tidak akan ada masalah. Namun jika sebaliknya pasti akan bermasalah” ujarnya.

Menurut Sulaiman agama merupakan kepedulian tertinggi manusia. Jika pemeluknya sampai tersinggung nayawa pun rela dijadikan taruhannya. Ia pun meminta kepada seluruh tokoh lintas agama supaya sadar diri. Hal ini menurut Sulaiman untuk menghindari tirani mayoritas ataupun tirani minoritas.

Salah satu perwakilan dari agama Kristen pendeta Andi Makusa juga sepakat untuk membuat Kabupaten Bekasi lebih harmonis. Ia juga setuju kalau sesama pemeluk beragama harus saling tenggang rasa dan tidak saling memaksakan kehendak. “Memang jangan sampai memaksakan kehendak supaya bisa hidup berdampingan” tuturnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: