Mengharap Hukum

14 Sep

Sejak naik daunnya pentas cecak buaya, ada banyak hal yang ingin kutuliskan dan tuangkan dalam bentuk tulisan atau diskusi. Tapi ga ada yang jadi. Terakhir hanya diskusi kecil-kecilan di ruang pantry ma agus, iman, irwan, freddy, santo, dll. Sambil minum kopi, gosipin dosen dan cenderung campur aduk ma tema-tema mesum (terutama agus tuh…). Bukan karena susah dan ribetnya permasalahan yang ada. Tapi justru karena telanjangnya masalah itu dipaparkan oleh media massa. Pimpinan KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah, ditahan atas tuduhan penyuapan (terakhir penyalahgunaan wewenang). Media menyebutnya sebagai Kriminalisasi KPK. Klimaksnya, Mahkamah Konstitusi memutar rekaman Anggodo. Glerr. Dunia Hukum Geger.

Mulai dari Pengacara kawakan [Jakarta Lawyers Club harus membuat beberapa kali dialog menyangkut hal ini, langsung dan di hotel berbintang (nih orang-orang kaya semua kayaknya ya)], jaksa, polisi, mahasiswa, ibu-ibu, tukang kredit, tukang ojek, PNS, pengangguran, punya pendapat mengenai hal ini. “Ih, candra ganteng juga ya”, kata seorang ibu di bis kota. Yah minimal dia ikut komentar. Tapi kalo kita lihat, sedikitnya ada 2 kubu yang saling konfrontatif mengenai pentas cicak buaya ini. Pertama, yang menganggap bahwa Pimpinan KPK bukanlah nabi yang tak punya dosa. Mereka adalah orang biasa yang bisa salah. Apalagi kewenangan yang begitu besar di KPK berpotensi untuk membuat pimpinannya gelap mata.

Kedua, yang memandang bahwa KPK adalah pahlawan baru Indonesia. Ketika lembaga hukum lain tak mampu menjerat para koruptor, KPK mampu menunjukkan peran yang signifikan. Melemahkan KPK berarti melawan hukum dan semangat reformasi. Bumbu-bumbu klimaksnya terlihat dari peran dan keterlibatan Anggodo, pembentukan Tim 8 dan rekomendasinya, isu keterkaitan kriminalisasi ini dengan Century sampai kepemimpinan Presiden. Ngelebar deh kemana-mana [nih yang senang wartawan kali ya, surplus berita].

Sebagai mahasiswa fakultas hukum, aku percaya hukum adalah elemen penting dalam kehidupan berbangsa [atau setidaknya inilah yang diajarkan kepada kami]. Kita harus menjunjung hukum diatas segala-galanya. Bahkan agama pun harus mau patuh sama ketentuan-ketentuan hukum [yang sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang tak ada habisnya juga, terutama tentang soal pertentangan antara syariah dan hukum positif, atau yang lebih tinggi aqidah islam dan sistem demokrasi, walau ada tak sedikit yang berpendapat bahwa pertentangan itu telah usai]. Namun hari ini ajaran itu kelihatannya sedang diuji. Hukum menjadi sekedar permainan iseng segelintir orang. Salah dan benar ditentukan dengan menghitung kancing baju [kayak UN dulu, hehehe]. Penjara atau bebas tergantung seberapa uang yang kau habiskan untuk menyuap pengacara, jaksa, polisi, hakim dan penegak hukum lainnya.

Dan yang paling disayangkan, tindakan ini dilakukan oleh orang yang seharusnya menunjukkan bahwa hukum itu adalah kontrak sosial yang harus ditaati bersama. Bahwa hukum dapat membawa ketertiban dan keamanan. Bahwa dengan hukumlah masyarakat bangsa ini dapat berjalan bersama menyongsong masa depannya. Orang-orang yang dipercaya untuk mengawal itu semua, malah mengkhianatinya. Mengorbankan sistem dan peradaban hukum yang layaknya dia jaga dan pelihara. Apa jadinya masyarakat jika tidak ada yang mentaati hukum. Bagaimana rakyat mau diminta taat hukum jika pejabat dan aparatnya malah mempermainkan hukum seenaknya saja?

Makanya tak heran kejahatan semakin marak. Angka kriminalitas meninggi. Main hakim sendiri adalah biasa. Pembunuhan dan perampokan merajalela. Toh uang kita juga dirampok sama pejabat dan koruptor. Logika sederhana inilah yang dipakai oleh rakyat. Dan kebanyakan kita lupa bahwa logika ini pula yang dipakai untuk menganalisa masalah-masalah yang terlihat dipermukaan. Ada orang yang mengatur hukum dan keadilan hanya dengan menelpon dan orang itu belum tersentuh. Ada apa dibalik ini semua?

Pertanyaan dan tulisan ini kulihat layak untuk direnungkan lagi. Siapapun akan tergiur dengan tawaran duit ratusan juta atau milyaran. Tapi sebandingkah itu kalau sampai mengorbankan bangsa ini? Lantas untuk siapa negara ini dibuat, kalau bukan untuk membuat rakyatnya bisa makan, anak-anak bisa sekolah, dan mencari pekerjaan dengan tenang. Yang itu semua dapat dilakukan jika negara ini aman. Dan mimpi ini direbut oleh orang-orang yang mengatur hukum seenaknya. Sambil ongkang-ongkang kaki, telpon sana-telpon sini. Halo, tolong atur kasus ini ya, hidupmu akan makmur selamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: