Sumpah!!!Itu Memang Sumpah Pemuda [Tulisan Kedua]

6 Sep

Nih Kejadian sekitar tahun 1999. Kaitannya dengan Pemilu pada waktu itu. Ini bukan ngomongin politik. Tapi kalau nyerempet-nyerempet dikit ga papa lah ya. hehehe…

Waktu itu aku ketua salah satu organisasi pelajar di kota asalku. Umurku 18 tahun. Katakanlah sebagai orang muda, ada partai politik mendekatiku untuk dijadikan kader dan pengurus. Karena pergaulan organisasi, aku bertemu dengan macam-macam orang partai. Mulai dari kurus sekedar punya idealis, sampai yang subur dan banyak dibekali dengan uang dan fasilitas. Dari yang naik mobil bermerk atau bahkan sekedar naik sepeda ontel. [ontel nih bahasa jakarta ya, kalau bahasa kampungku apa ya?… sepeda uwak-uwak [orang tua] kali ya].

Yang aku mau sampein adalah bahwa sesungguhnya [lebay mode on] kenalanku orang partai yang dibekali dengan uang dan fasilitas dari partainya ini selalu mengatakan bahwa gak cocok banget pengurus partai naik sepeda, sepeda tua lagi. “Masak ngurus orang banyak pake sepeda, mensejahterakan dirinya aja susah, bagaimana mau mensejahterakan masyarakat?” katanya sambil cengengesan. Logika lurus dan ekonomis seperti ini sering dan massif kita gunakan untuk menilai keberhasilan dan kemampuan. Gak mungkinlah. Aku gak tau bagaimana tanggapan orang partai yang naik sepeda ini. Karena ga nanya. Tapi yang aku tau kemudian, yang naik sepeda naik menjadi anggota DPRD. Dan yang subur makmur malah ga jadi.

Kalau kita kaitkan dengan sumpah pemuda, tanpa bermaksud memaksakan, anak-anak muda yang ngumpul di kongres itu dapat dipastikan juga dibebani oleh logika-logika itu. Logika gak mungkin. Ngapain sih, Pemerintah Hindia Belanda ini dah memang takdir kita. Apakah kalau kita melawan terus bisa menang? Sudah lebih 300 tahun kita dijajah, terus mau apa lagi. Gak mungkinlah. Senjata apa yang kita punya? Sumber daya apa yang kita miliki. Dimana-mana yang miskin itu selalu kalah. gak mungkinlah. Apakah kalau hari ini kita buat keputusan terus bangsa ini bisa menentukan nasibnya sendiri.

Namun sejarah telah bicara. Kita merdeka. Kita menentukan nasib bangsa ini ditangan kita sendiri. Anak-anak muda itu telah menyatakan tekad dan impiannya, sekaligus berusaha meraihnya. Keputusan Kongres itu adalah tekad dan niat. Yang tak semua orang dapat melakukannya. Tapi mereka melakukannya. Bersumpah untuk bersatu tanah air, bangsa dan bahasa. Hanya pernyataan tekad. Siapa dulu yang percaya, kalau itu kemudian membawa kemerdekaan bangsa ini? Gak mungkin. Imposibel [purwokerto mode on].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: