Nak, maukah kau menjadi seperti Diponegoro?…

6 Sep

Pahlawan adalah Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, Cut Nyak Dien. Kutil, anak tetangga, pasti menjawab begitu kalau ditanya apa itu pahlawan. Pahlawan adalah seseorang yang melakukan perjuangan patriotik bagi tanah airnya. Kata teman mencoba mendefinisikan. Pemberani, rela berkorban, tanpa pamrih adalah sedikit sifat yang sering kali dilekatkan pada seorang Pahlawan.

Pangeran Diponegoro (Raden Mas Mustahar, lahir di Yogyakarta, 11 Nopember 1785) misalnya. Dia berani melawan keinginan Belanda yang ingin merampas tanah miliknya dan masyarakat di Tegalrejo. Diceritakan pembangkangan Diponegoro ini mendapat dukungan dan simpati masyarakat. Tentu ada banyak orang selain Diponegoro yang hidup dan terganggu oleh sikap dan tindakan Belanda pada masa itu. Namun yang muncul dan dikenal oleh kita adalah Diponegoro. Karena dia berani menyuarakan prinsip dan keyakinannya. Dia pun tak pernah menghitung apa dan berapa kerugian yang dideritanya. Dia harus mengungsi dan hidup dalam kesederhanaan di Goa Selarong. Padahal kalau dia mau, hidupnya gak akan susah. Karena sebagai bagian dari lingkungan istana kerajaan Mataram, dia punya koneksi dan peluang untuk hidup senang. Jauh dari penderitaan. Tapi toh dia memilih jalan lain. Jalan panjang yang tak mudah, menderita, mungkin kelaparan, terpisahkan dari keluarga dan akhirnya terbuang dari tanah kelahirannya (Diponegoro meninggal di Makasar).

Adakah pahlawan seperti Diponegoro hari ini? Ada. Tapi jumlahnya semakin sedikit. Orang yang berfikir sedikit berbeda, berani, rela berkorban dan tanpa memperdulikan upah dan pamrih dalam berbuat sesuatu untuk masyarakatnya. Masih ada gak sih sikap-sikap kepahlawanan seperti itu ketika individualistik dan materi menjadi ciri utama manusia modern saat ini.

Menjadi pahlawan seperti Diponegoro kayaknya memang perlu disossialisasikan [bahasa pemerintah banget nih…]. Makanya kalau kita ngajari anak kita kyaknya gak cukup kalau kita sebut bahwa dia harus jadi pilot, dokter dan presiden. Pertanyaan kita harus sedikit dirubah menjadi: ” Nak, maukah kau menjadi seperti Diponegoro?…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: