Gantungkan hidup dari asesoris

6 Sep

Gantungkan hidup dari asesoris

Mayoritas penduduk Desa Taman Rahayu, Setu, Kabupaten Bekasi menggantungkan hidupnya dengan merangkai asesoris. Hampir 70 persen penduduknya merupakan pegrajin berbagai macam asesoris. Hampir di setiap rumah yang ada di desa tersebut dengan mudah ditemukan sekumpulan kaum ibu yang merangkai asesoris. Asesoris ini nantinya dipasarkan di Jakarta bahkan sampai Jawa Timur.

Kerajinan yang ditekuni oleh warga Taman Rahayu ini patut untuk dikembangkan. Sebab jika bisa dikembangkan dengan baik dapat dijadikan daya tawar tersendiri bagi daerah tersebut. Namun sangat disayangkan kebanyakan pengrajin mengaku tidak mendapatkan perhatian dari pemda. Padahal keberadaan mereka dengan asesorisnya telah memberikan cirri tersendiri bagi Kabupaten Bekasi.

Salah satu pengrajin asesoris dari timah, Suherman yang sudah memulai usahanya sejak 20 tahun lalu mengaku kalau pemerintah daerah tidak pernah memberikan bantuan pada pengrajin sekelasnya. Menurutnya justru para pengrajin yang sudah mapan dan mempunyai omset yang cukup besar yang diberikan modal. Sementara pengrajin sepertinya tidak mendapatkan sama sekali. Padahal tambah Suherman yang membutuhkan modal adalah pengrajin seperti dirinya. “ada bantuan dari pemerintah, tapi buat yang suda mapan aja” ungkapnya sambil mengaduk timah yang sudah menikah.

Suherman berharap pemerintah daerah kembali melakukan pengecekan ke lapangan. Hal ini dimaksudkan kalau memberikan bantuan supaya tidak salah sasaran. Selain itu soal pemasaran juga perlu diperhatikannya. Sebab jika tidak didukung dengan pemasaran yang memadai lambat laun usaha yang sudah menjadi cirri khas desa Taman Rahayu tersebut akan hilang. “seharusnya pemerintah turun kelapanganlah. Kalau yang diberikan bantuan orang yang sudah mampu kan kesel juga kita” jelasnya.

Selain masalah permodalan ternyata pengrajin asesoris ini juga terganggu dengan masuknya asesoris buatan Cina. Menurutnya asesoris buatan Cina tersebut mengganggu pemasaran yang selama  ini dikuasai oleh asesoris dari Taman Rahayu ini. Setelah barang-barang Cina masuk dengan mudah ke Indonesia mereka pun tergeser. “buatan kita kalah dengan Cina. Barang-barang mereka murah-murah. Pembelikan milihnya yang murah” tambahnya.

Karena desakan barang dari Cina inilah mereka mencoba memasarkan produknya sampai ke Jawa Timur, Solo dan Semarang. Padahal sebelumnya mereka hanya cukup memasarkan produknya di pasar Jati Negara Jakarta. Kini merekapun tergeser dari pasar yang telah lama mereka kuasi tersebut. “kami terpinggirkan dan pindah ke pasar pagi dan pasar rumput Jakarta” ungkapnya dengan nada sedih.

Selain itu, bahan baku yang digunakan juga cukup mahal. Sedangkan untuk mendapatkan bahan baku timah juga relative sangat sulit. Selama ini ia memasok bahan baku dari barang bekas yang di pasarkan oleh orang-orang Madura. Sementara produk cina bisa murah karena bahan bakunya dari karet. Namun mereka bisa menyepuhnya sehingga produk mereka bisa bagus tanpa harus memakai bahan baku seperti timah. Itulah kelebihan produk cina. “dari madura yang bekas-bekas itu” bebernya.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: